Senin, 02 Januari 2012

Wallahul Musta'an

ketika yang benar ditinggalkan,
ketika yang salah dijadikan panutan,
ketika orang lebih mengikuti kesenangan hatinya,
ketika yang haram dianggap benar,
ketika budaya agama lain mereka sambut,
ketika musik dan syair menjauhkan Al-Qur'an,
ketika membicarakan ilmu agama membosankan,
ketika mereka mencela yang haq,
ketika hawa nafsu merajai semuanya,
ketika syaithan berbisik..
ketika israfil meniupkan sangkakala,
atau, ketika nyawa harus kembali kepada-NYA

ketika itu, aku hanya ingin selalu berada dalam pertolongan-NYA, 
meneguhkan dan diteguhkan Iman,
dalam jalan yang lurus menuju-NYA,
mendapatkan kasih sayang dan ridho-NYA, 
Ridho Rabbku, Allah Subhanahu wa Ta'ala, 
Rabb pencipta langit dan bumi,
Rabb semesta alam dan isinya.


Minggu, 30 Oktober 2011

Mengenal AL-QUR’AN


Al-Qur’an itu merupakan kitab Allah  Subhanahu Wa Ta’ala yang terakhir yang diturunkan kepada nabi terakhir, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan merupakan penyempurnaan serta pelengkap kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, seperti kitab Zabur, Taurat, dan Injil. Al-Qur’an juga sebagai petunjuk dan penjelas serta pembeda antara yang hak dan yang batil.
            Al-Qur’an bersifat universal. Universal dalam arti cakupan sasarannya seluruh umat manusia tanpa dibatasi ras (suku/bangsa) dan wilayah (daerah/negara), serta golongan atau strata sosial tertentu. Universal dalam arti masa berlakunya sepanjang  masa dan zaman tanpa dibatasi waktu sejak Nabi Muhammad sampai akhir zaman.
            Keluasan dan kelengkapan ajarannya, menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya pedoman kehidupan yang dapat membawa manusia pada keselamatan dan kebahagiaan lahir-batin, dunia-akhirat. Dalam Al-Qur’an petunjuk yang jelas dan nyata, bagaimana manusia harus hidup dan menghadapi berbagai masalah kehidupan ini tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaannya yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka adalah pahala yang besar” (QS. Al-Israa’ : 9)
            Oleh karena itu, sebagai makhluk yang dikaruniai akal, hendaknya manusia itu senantiasa berpegang teguh kepada aturan Allah dan berpedoman kepada Al-Qur’an. 

       DEFINISI AL-QUR’AN
            AL-QUR’AN adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam mempercayai bahwa Al-quran merupakan puncak dan penutup Wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril.
Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Najm (53) ayat: 4
“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

            Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah, dan akan mendapat pahala.
     Dalam sebuah Rasulullah bersabda, yang artinya:
“Orang yang mahir Al-Qur’an dia bersama malaikat yang yang mulya lagi baik. Orang yang membaca Al-Qur’an dan dia terbata-bata didalamnya serta dia mengalami kesulitan, dia itu mendapat dua pahala.” (HR. Muslim).
     Kemurnian Kitab Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan menurunkan Al-Quran itu sendiri. Dan pada kenyataannya kita bisa
melihat, satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu umat Islam.
      
Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 23:
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah  satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
            maksud  Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka (orang-orang musyrik) yang meragukan tentang kebenaran Al-Qur'an. Al-Qur’an itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastra dan bahasa karena ia merupakan Firman Allah Ta’ala yang tidak ada tandingannya.
Surat Huud (11) ayat : 14
“Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan dengan ilmu  Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?”

Kemudian dalam Surat  Al-israa (17) ayat : 18, Allah berfirman:
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusi.”

 Nama-Nama AL-QUR’AN
            Al-Qur'an mempunyai beberapa nama yang kesemuanya menunjukkan kedudukannya yang tinggi dan luhur, dan secara mutlak Al-Qur'an adalah kitab yang paling mulia.
  • ·    Al-Kitab
Surat Al-Baqarah (2) ayat 2:
“ Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”
            Ibnu Juraij mengatakan, Ibnu Abbas pernah mengatakan bahwa makna Dzalikal kitabu adalah "kitab ini", yakni Al-Qur'an ini. Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jabir, As-Saddi, Muqatil ibnu Hayyan, Zaid ibnu Aslam, dan Ibnu Juraij. Mereka me-ngatakan bahwa memang demikianlah maknanya, yakni zalika (itu) bermakna haza (ini). Orang-orang Arab biasa menyilihgantikannya isim-isim isyarah (kata petunjuk), mereka menggunakan masing-masing darinya di tempat yang lain; hal ini sudah dikenal di dalam pembicaraan (percakapan) mereka. (Tafsir Ibnu Katsir)
            Jadi Allah menamakan Al-Qur'an dengan Al Kitab yang di sini berarti "yang ditulis", sebagai isyarat bahwa Al-Qur'an diperintahkan untuk ditulis atau tulisan.
  • ·     Al-Hudaa
            Tentunya tidak dapat disangkal lagi bahwa al-Qur’an adalah Huda (penjelasan, petunjuk), petunjuk dari kesesatan dan kebutaan. Ia adalah petunjuk secara hakikat dan makna, ia adalah petunjuk dari kekufuran dan kemunafikan, dari kezhaliman dan tindakan melampaui batas, dari kebingungan dan ketakutan serta petunjuk dari segala hal yang menyimpang dan dapat menjerumuskan.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185 :
 “ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
  • ·      Al-Furqan
           Al Qur’an disebut juga Al Furqaan karena memiliki fungsi sebagai pembeda antara yang haq dan bathil.

QS. Al-Furqaan (25) ayat : 1
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam .”
Yang dimaksud dengan Al-Furqan dalam ayat ini ialah Al-Quran. Al-Quran dinamakan Al-Furqan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil, diantarnya membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah Ta’ala dengan kebatilan kepercayaan syirik


  • ·     Al-Bayaan
            Al Bayaan karena ia berfungsi sebagai penjelas dan penerang kebenaran dari Tuhan.

 “(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali-Imran (3) : 138)


 TUNTUTAN IMAN KEPADA AL-QUR’AN


Dalam Surat Al-Ahzab (33) ayat : 36 Allah Ta’ala berfirman:
           
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
            Sesuai firman Allah di atas, setiap umat Islam baik laki-laki maupun perempuan, di tuntut untuk mengimani suatu ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah, yaitu diantaranya Al-Qur’an, sehingga apabila mereka mengingkari akan adanya Al-Qur’an sesungguhnya mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sesat
            Selain itu, sebagai orang yang telah menyatakan beriman kepada Al-Quran dan meyakini kebenarannya, tentunya tidak cukup hanya beriman dan yakin akan kebenarannya saja, melainkan kita dituntut untuk mewujudkannya dalam bentuk amal nyata. Diantaranya: 
1. Mempelajari dan mengajarkan serta membacanya
Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 121 yang artinya: Orang-orang yang Telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi.
2.  Memahami dan mentadaburinya
3.  Melaksanakan (mengamalkan)nya
4.  Menghafal dan memeliharanya, Rasulullah bersabda, yang artinya:
“Sesunggguhnya Al-Qur’an Al-Karim ini membutuhkan penjagaan (muraja’ah) dan banyak membaca, karena Al-Qur’an itu lebih cepat terlepas melebihi unta dari ikatannya. [HR. Al-Bukhari).
5.  Menda’wahkannya
6.  Menerima dan tunduk dengan hukum-hukumnya.

Senin, 26 September 2011

Ihdinash Shirathal Mustaqim

Sepercik tafsir ayat ihdinash shirathal mustaqim
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, ”Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia terus berada di atasnya…” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, I/37)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Ayat ini -ihdinash shirathal mustaqim- mengandung penjelasan bahwa sesungguhnya hamba tidak akan mendapatkan jalan untuk menggapai kebahagiaannya kecuali dengan tetap istiqamah di atas jalan yang lurus. Dan tidak ada jalan untuk meraih keistiqamahan baginya kecuali dengan hidayah dari Rabbnya kepada dirinya. Sebagaimana tidak ada jalan baginya untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya, maka demikian pula tidak ada jalan baginya untuk bisa istiqamah di atas jalan tersebut kecuali dengan hidayah dari-Nya.” (Al Fawa’id, hal. 21).
Syaikhul Islam rahimahullah berkata :
Seorang hamba senantiasa memerlukan hidayah Allah untuk meniti jalan yang lurus. Maka dari itu dia sangat memerlukan tercapainya maksud di balik doa ini (yaitu ‘ihdinash shirathal mustaqim’). Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari azab dan bisa menggapai kebahagiaan kecuali dengan hidayah ini. Barangsiapa yang kehilangan hidayah maka dia akan termasuk golongan orang yang dimurkai atau golongan orang yang sesat. Dan petunjuk ini tidak akan diraih kecuali dengan taufik dari Allah. Ayat ini pun menjadi salah satu senjata pembantah kesesatan mazhab Qadariyah.
Adapun pertanyaan orang : ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah kepada mereka (umat Islam) oleh sebab itu mereka tidak perlu meminta hidayah’ beserta jawaban orang untuk pertanyaan itu bahwa ‘yang dimaksud dengan ayat ini adalah permintaan agar hidayah itu terus menerus menyertai hamba’, maka itu semua merupakan ucapan orang yang tidak memahami hakekat hukum sebab akibat dan tidak mengerti isi perintah Allah. Karena sesungguhnya hakekat jalan yang lurus (shirathal mustaqim) itu adalah seorang hamba melakukan perintah Allah yang tepat di setiap waktu yang dijalaninya baik hal itu ilmu maupun amal, dan dia tidak menerjang larangan Allah.
Nah, hidayah semacam ini sangat diperlukan di setiap saat agar bisa berilmu dan beramal sebagaimana apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan larangan-Nya pada kesempatan tersebut. Dan hidayah itu pun dibutuhkan hamba agar bisa memiliki tekad yang bulat dalam rangka menjalankan perintah. Demikian pula halnya diperlukan rasa benci yang amat dalam agar bisa meninggalkan hal-hal yang dilarang. Apalagi ilmu dan tekad yang lebih spesifik ini sulit terbayang bisa dimiliki seseorang di saat yang sama.
Bahkan di sepanjang waktu hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah untuk mengaruniakan ilmu dan tekad ke dalam hatinya sehingga dia akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus.
Memang benar, bahwa seorang muslim telah memperoleh petunjuk global yang menerangkan bahwa Al-Qur’an adalah haq, Rasul pun haq dan agama Islam adalah benar. Anggapan itu memang benar. Akan tetapi petunjuk yang masih bersifat global ini belumlah cukup baginya apabila dia tidak mendapatkan petunjuk yang lebih rinci dalam menyikapi segala perkara juz’iyaat (persoalan cabang) yang diperintahkan kepadanya dan dilarang darinya dimana mayoritas akal manusia mengalami kebingungan dalam hal itu. Sehingga hawa nafsu dan syahwat mengalahkan diri mereka dikarenakan hawa nafsu dan syahwat itu telah mendominasi akal-akal mereka.
Pada asalnya manusia itu tercipta sebagai makhluk yang suka berbuat zalim lagi bodoh. Sehingga sejak dari permulaan manusia itu memang tidak punya ilmu dan cenderung melakukan hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsunya yang buruk. Oleh sebab itu dia selalu membutuhkan ilmu yang lebih rinci untuk bisa mengikis kebodohan dirinya. Selain itu dia juga memerlukan sikap adil dalam mengendalikan rasa cinta dan benci, dalam mengendalikan ridha dan marah, dalam mengendalikan diri untuk melakukan dan meninggalkan sesuatu, dalam mengendalikan diri untuk memberikan dan tidak kepada seseorang, dalam hal makan dan minumnya, dalam kondisi tidur dan terjaga.
Maka segala sesuatu yang hendak diucapkan atau dilakukannya membutuhkan ilmu yang menyingkap kejahilannya dan sikap adil yang menyingkirkan kezalimannya. Apabila Allah tidak menganugerahkan kepadanya ilmu serta sikap adil yang lebih rinci -sebab jika tidak demikian- maka di dalam dirinya tetap akan tersisa kebodohan dan kezaliman yang akan menyeretnya keluar dari jalan yang lurus.
Allah ta’ala berfirman terhadap Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah terjadinya perjanjian Hudaibiyah dan Bai’at Ridhwan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata.” hingga firman-Nya, “Dan Allah menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath : 1-2). Kalau keadaan beliau di akhir hidupnya atau menjelang wafatnya saja seperti ini (tetap memerlukan hidayah-pent) lalu bagaimanakah lagi keadaan orang selain beliau ?
[Majmu’ Fatawa. Islamspirit.com]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, ”Jalan yang lurus ini adalah jalannya orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalannya para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalannya orang yang dimurkai, yang mereka mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 39).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al ‘Ankabut [29] : 69).
Ibnul Qayyim mengatakan, ”Allah subhanahu mengaitkan hidayah dengan jihad (kesungguh-sungguhan). Maka orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihad-Nya dan jihad yang paling wajib adalah berjihad untuk menundukkan diri sendiri, melawan hawa nafsu, memerangi syaitan, dan menundukkan urusan keduniaan. Barang siapa yang berjihad melawan keempat hal ini di atas petunjuk Allah maka Allah akan menunjukkan kepada-Nya berbagai jalan untuk menggapai keridhaan-Nya dan akan mengantarkan dirinya menuju ke dalam surga-Nya. Dan barang siapa yang meninggalkan jihad, maka akan luput pula darinya petunjuk sebanding dengan jihad yang ditinggalkannya. Al Junaid mengatakan,”Orang-orang yang berjihad menundukkan hawa nafsu mereka di atas jalan Kami dengan senantiasa bertaubat, maka Kami akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan keikhlasan, dan tidak mungkin sanggup berjihad menghadapi musuh fisik yang ada di hadapannya kecuali orang yang telah berjihad menundukkan musuh-musuh ini di dalam dirinya…” (Al Fawa’id, hal. 58).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Qashash [28] : 50).
Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa semua orang yang tidak mau memenuhi seruan Rasul dan justru menganut pendapat yang menyelisihi ucapan Rasul maka dia tidaklah bermadzhabkan bimbingan hidayah akan tetapi madzhabnya adalah hawa nafsu. Orang-orang yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang kezaliman telah menjadi karakter hidupnya dan suka menentang (kebenaran) telah melekat dalam perangainya. Ketika hidayah menyapa, mereka justru menolaknya. Mereka lebih senang menuruti kemauan hawa nafsunya. Mereka sendirilah yang menutup pintu-pintu dan jalan menuju hidayah. Mereka justru membuka pintu-pintu kesesatan dan jalan menuju ke sana. Mereka menutup mata dan tidak mau tahu, padahal mereka telah tenggelam dalam kesesatan dan penyimpangan. Mereka terombang-ambing, hidup di ambang kehancuran (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 618).
Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitana, wa hablanaa min ladunka rahmah. Innaka anta al-Wahhaab [lihat doa ini dalam QS. Ali Imran : 8].artikel ini hasil copy paste http://abumushlih.com/tunjukilah-kami-ke-jalan-yang-lurus.html/

Tulislah

Tulislah!
itu kata yang saya ingat, setelah mendengar seminar dari orang-orang yang hampir seluruh keinginannya tercapai,
kata mereka, waktu itu mereka menuliskan semua rencana ke depan/keinginannya di atas selembar kertas, diantaranya pak Valentino Dinsi (mungkin ada yang pernah dengar namanya juga? Dosen UI).
ketika umur 19 tahun, pak Valentino menulis semua keinginannya, setelah ditotal, ada sekitar 220 keinginan, 17 tahun kemudian, dia lihat, keinginannya tercapai 70%. setidaknya hanya sedikit keinginan kita yang meleset (belum tercapai), keinginannya tidak hanya sedekar ditulis saja, tapi diiringi dengan usaha dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan ibadah.

Karena semua itu nggak akan tercapai, kalo cuma "ingin" dan "menulis" tapi nggak pake usaha dan minta ke yang Maha Pemberi, yaitu Allah Ta'ala.

jadi lengkapanya: Rencanakan, Tulislah, berUsaha dan berDo'a-lah!

::aku sendiri belum mencoba menulis semuanya, share aja dulu. ^^v

Sabtu, 27 Agustus 2011

Pixma MP258

Dengan modal uang Rp 500 ribu dari sisa uang THR, aku mengajak Ibu ke toko komputer dekat rumah untuk membeli sebuah printer bermerk Canon (gak tau tipenya) yang sudah lama saya incar.

sampai di sana, incaran saya berubah ketika melirik printer-printer tipe lainnya, saya tertarik begitu melihat sebuah printer dengan 3 fungsi, bukan hanya untuk Printing, tapi juga bisa Scan dan Fotocopy, yap, namanya Canon Pixma MP258, dan ternyata harganya pun gak terlalu mahal,  Rp 650 ribu,- saya makin tertarik, akhirnya kami (saya dan ibu) pulang dulu ke rumah, mengambil sisa uang yang kurang, sampai di toko komputer langsung saya bayar, terus bawa pulang deeeh..
lumayan berat juga kalaucuma bawa sendiri, karena ukurannya sedikit lebih besar dibanding printer biasa.

Canon Pixma MP258 - 
berhubung sekarang kamera di Handphone saya jelek, jadi gambarnya saya ambil dari Google aja. hehehe..

berikut sedikit spesifiksinyadari saya  kalau ada yang berminat beli printer kayak gini:

* Print Canon MP258 ini mampu menghasilkan hasil cetak dengan resolusi 4800 x 1200 dpi (dot per inch)
dengan kecepatan 7 ipm (image per minute) untuk print hitam, dan 4,8 ipm untuk print warna.

*untuk mencetak foto ukuran 4x6" tanpa batas pinggiran, dengan kecepatan 56 detik.

*kemampuan scan dengan resolusi 600 x 1200 dpi, kertas berwarna dalam waktu 15 detik.
* kecepatan mengcopy/fotocopy dokumen berwarna waktu 39 detik.

ukuran kertas yang kompatibel: A4, Letter, Legal, A5, B5, Envelopes, 4x6", 5x7", 8x10"

dan untuk proses fotocopy, tidak perlu menghubungkan printer ke komputer, cukup dinyalakan saja, terus tinggal pilih, mau fotocopy warna atau hitam saja, cukup tekan tombolnya, dan pilih jumlah yang akan dicopy.

karena baru pertama kali punya printer, setelah diinstall sempat bingung juga mengutak-ngatiknya mulai dari memasang tinta, menaruh kertasnya, tapi yang penting ikuti aja buku petunjuk yang tersedia.  :)

Kamis, 18 Agustus 2011

21 bukan 12 !


12 tahun?
ini sih usia orang yang akan memakan bangku SMP (ih, seremmm)
not..! not! bukan 12 tapi 21

Apaan 21?


 
betul..betul, 2 minggu yang lalu (31 Juli 2011) akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket nonton Harry Potter and The Deathly Hallows part-2 yang versi 3D di Cinema 21.

loh kok?

tapi bukan itu maksud 21 di sini.

gini loh,  tepatnya kemarin, 17 Agustus 2011, usia saya di dunia ini jadi 21 tahun, tentunya jatah hidup di dunia ini berkurang...

21 Tahun
waw, angka yang pas untuk mendapat gelar "dewasa"
oh yeah?
benarkah sekarang saya sudah dewasa?
hmmm.. gak yakin, si Riri orangnya dewasa.
 tapi kita coba saja, untuk menjadi lebih dewasa..
yang jelas, umur 21 udah berat banget (badannya? oh, harus nambah berat badan)..
yaa, ke depannya yang harus dipertanggungjawabkannya semakin banyak. pikir aja!
banyak tuntutan, ibadah harus makin mantep, melanjutkan pendidikan, mendapatkan karir, dan yang paling sering jadi topik nih: "menikah"

pokoknya, gak boleh bertingkah kayak anak usia 12 tahun karena sekarang udah abad umur 21 .
ayo Riri.. berjalan dan berlari dengan SEMANGAT di usia yang sekarang ini!!! :)

Bismillah...

Selasa, 09 Agustus 2011

cepat sembuh!


si 3600 hampir 2 minggu di rumah sakit..
dua kali saya menjenguknya, jawab si penjaga counter: "belum mba.."
terakhir tadi saya jenguk, si dokter bilang: " tinggalin aja nomer hape mba, nanti saya hubungi, susah banget, terlalu parah.. tapi saya masih pertahanin, belum menyerah"

*I miss u..
#####

memang kadang kamu membuat aku jengkel dengan sikap kamu yang suka diam medadak, sempat berpikir untuk mencari penggantimu ..
tapi, setelah kejadian 2 minggu lalu.. aku Menyesal, karena tidak merawat kamu dengan baik.. ya, menyesal, karena tidak memperlakukanmua dengan wajar..

kamu, sudah 2 tahun menemaniku, digenggam olehku, dan jasamu itu banyak, diantaranya menyampaikan apa yang ingin aku katakan kepada orang-orang sekelilingku apabila mereka dalam jarak yang jauh, mengambil gambar momentku, merekamnya, dan banyak lagi....

aku.. aku menyesal.

aku rindu kamu.

aku ingin kamu kembali !

cepat kau sadar dari sekaratmu hey handphone...

maafkan aku yang hampir membunuhmu, membuatmu tenggelam dalam air, air sabun,
sedang aku tau kau sangat membenci air.

aku yang telah membuatmu seperti sekarang ini.

aku pasrah.
kalau kau mati, mungkin itu yang terbaik untukku.

tapi  aku selalu berdoa, semoga kau bisa disembuhkan supaya bisa bermain denganku seperti sebelumnya. ^