Tampilkan postingan dengan label Ingat Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ingat Allah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Oktober 2013

Ingatlah

Sudah begitu banyak nikmat dan pemberian Allah Ta'ala kepadamu, sehingga kamu tidak dapat menghitungnya.
Tetapi sudahkah kamu tunduk dan taat kepada Rabbmu yang Maha Penyayang?


Minggu, 20 Januari 2013

Jika Tak Menemukan...

Jangan memaksakan diri mendapatkan sebuah cermin untuk dapat melihat wajah atau diri sendiri kalau itu sulit ditemukan.
Masih ada yang lain seperti air bening yang juga dapat membantu melihat wajah sendiri. Atau apapun sejenisnya yang dapat digunakan.

Dan ketika mendapat kesulitan mintalah pertolongan Allah, berusaha dan yakinlah untuk mendapatkan jalan keluar.



Senin, 02 Januari 2012

Wallahul Musta'an

ketika yang benar ditinggalkan,
ketika yang salah dijadikan panutan,
ketika orang lebih mengikuti kesenangan hatinya,
ketika yang haram dianggap benar,
ketika budaya agama lain mereka sambut,
ketika musik dan syair menjauhkan Al-Qur'an,
ketika membicarakan ilmu agama membosankan,
ketika mereka mencela yang haq,
ketika hawa nafsu merajai semuanya,
ketika syaithan berbisik..
ketika israfil meniupkan sangkakala,
atau, ketika nyawa harus kembali kepada-NYA

ketika itu, aku hanya ingin selalu berada dalam pertolongan-NYA, 
meneguhkan dan diteguhkan Iman,
dalam jalan yang lurus menuju-NYA,
mendapatkan kasih sayang dan ridho-NYA, 
Ridho Rabbku, Allah Subhanahu wa Ta'ala, 
Rabb pencipta langit dan bumi,
Rabb semesta alam dan isinya.


Senin, 26 September 2011

Ihdinash Shirathal Mustaqim

Sepercik tafsir ayat ihdinash shirathal mustaqim
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, ”Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia terus berada di atasnya…” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, I/37)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Ayat ini -ihdinash shirathal mustaqim- mengandung penjelasan bahwa sesungguhnya hamba tidak akan mendapatkan jalan untuk menggapai kebahagiaannya kecuali dengan tetap istiqamah di atas jalan yang lurus. Dan tidak ada jalan untuk meraih keistiqamahan baginya kecuali dengan hidayah dari Rabbnya kepada dirinya. Sebagaimana tidak ada jalan baginya untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya, maka demikian pula tidak ada jalan baginya untuk bisa istiqamah di atas jalan tersebut kecuali dengan hidayah dari-Nya.” (Al Fawa’id, hal. 21).
Syaikhul Islam rahimahullah berkata :
Seorang hamba senantiasa memerlukan hidayah Allah untuk meniti jalan yang lurus. Maka dari itu dia sangat memerlukan tercapainya maksud di balik doa ini (yaitu ‘ihdinash shirathal mustaqim’). Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari azab dan bisa menggapai kebahagiaan kecuali dengan hidayah ini. Barangsiapa yang kehilangan hidayah maka dia akan termasuk golongan orang yang dimurkai atau golongan orang yang sesat. Dan petunjuk ini tidak akan diraih kecuali dengan taufik dari Allah. Ayat ini pun menjadi salah satu senjata pembantah kesesatan mazhab Qadariyah.
Adapun pertanyaan orang : ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah kepada mereka (umat Islam) oleh sebab itu mereka tidak perlu meminta hidayah’ beserta jawaban orang untuk pertanyaan itu bahwa ‘yang dimaksud dengan ayat ini adalah permintaan agar hidayah itu terus menerus menyertai hamba’, maka itu semua merupakan ucapan orang yang tidak memahami hakekat hukum sebab akibat dan tidak mengerti isi perintah Allah. Karena sesungguhnya hakekat jalan yang lurus (shirathal mustaqim) itu adalah seorang hamba melakukan perintah Allah yang tepat di setiap waktu yang dijalaninya baik hal itu ilmu maupun amal, dan dia tidak menerjang larangan Allah.
Nah, hidayah semacam ini sangat diperlukan di setiap saat agar bisa berilmu dan beramal sebagaimana apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan larangan-Nya pada kesempatan tersebut. Dan hidayah itu pun dibutuhkan hamba agar bisa memiliki tekad yang bulat dalam rangka menjalankan perintah. Demikian pula halnya diperlukan rasa benci yang amat dalam agar bisa meninggalkan hal-hal yang dilarang. Apalagi ilmu dan tekad yang lebih spesifik ini sulit terbayang bisa dimiliki seseorang di saat yang sama.
Bahkan di sepanjang waktu hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah untuk mengaruniakan ilmu dan tekad ke dalam hatinya sehingga dia akan bisa berjalan di atas jalan yang lurus.
Memang benar, bahwa seorang muslim telah memperoleh petunjuk global yang menerangkan bahwa Al-Qur’an adalah haq, Rasul pun haq dan agama Islam adalah benar. Anggapan itu memang benar. Akan tetapi petunjuk yang masih bersifat global ini belumlah cukup baginya apabila dia tidak mendapatkan petunjuk yang lebih rinci dalam menyikapi segala perkara juz’iyaat (persoalan cabang) yang diperintahkan kepadanya dan dilarang darinya dimana mayoritas akal manusia mengalami kebingungan dalam hal itu. Sehingga hawa nafsu dan syahwat mengalahkan diri mereka dikarenakan hawa nafsu dan syahwat itu telah mendominasi akal-akal mereka.
Pada asalnya manusia itu tercipta sebagai makhluk yang suka berbuat zalim lagi bodoh. Sehingga sejak dari permulaan manusia itu memang tidak punya ilmu dan cenderung melakukan hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsunya yang buruk. Oleh sebab itu dia selalu membutuhkan ilmu yang lebih rinci untuk bisa mengikis kebodohan dirinya. Selain itu dia juga memerlukan sikap adil dalam mengendalikan rasa cinta dan benci, dalam mengendalikan ridha dan marah, dalam mengendalikan diri untuk melakukan dan meninggalkan sesuatu, dalam mengendalikan diri untuk memberikan dan tidak kepada seseorang, dalam hal makan dan minumnya, dalam kondisi tidur dan terjaga.
Maka segala sesuatu yang hendak diucapkan atau dilakukannya membutuhkan ilmu yang menyingkap kejahilannya dan sikap adil yang menyingkirkan kezalimannya. Apabila Allah tidak menganugerahkan kepadanya ilmu serta sikap adil yang lebih rinci -sebab jika tidak demikian- maka di dalam dirinya tetap akan tersisa kebodohan dan kezaliman yang akan menyeretnya keluar dari jalan yang lurus.
Allah ta’ala berfirman terhadap Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah terjadinya perjanjian Hudaibiyah dan Bai’at Ridhwan (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata.” hingga firman-Nya, “Dan Allah menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath : 1-2). Kalau keadaan beliau di akhir hidupnya atau menjelang wafatnya saja seperti ini (tetap memerlukan hidayah-pent) lalu bagaimanakah lagi keadaan orang selain beliau ?
[Majmu’ Fatawa. Islamspirit.com]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, ”Jalan yang lurus ini adalah jalannya orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalannya para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalannya orang yang dimurkai, yang mereka mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 39).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al ‘Ankabut [29] : 69).
Ibnul Qayyim mengatakan, ”Allah subhanahu mengaitkan hidayah dengan jihad (kesungguh-sungguhan). Maka orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihad-Nya dan jihad yang paling wajib adalah berjihad untuk menundukkan diri sendiri, melawan hawa nafsu, memerangi syaitan, dan menundukkan urusan keduniaan. Barang siapa yang berjihad melawan keempat hal ini di atas petunjuk Allah maka Allah akan menunjukkan kepada-Nya berbagai jalan untuk menggapai keridhaan-Nya dan akan mengantarkan dirinya menuju ke dalam surga-Nya. Dan barang siapa yang meninggalkan jihad, maka akan luput pula darinya petunjuk sebanding dengan jihad yang ditinggalkannya. Al Junaid mengatakan,”Orang-orang yang berjihad menundukkan hawa nafsu mereka di atas jalan Kami dengan senantiasa bertaubat, maka Kami akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan keikhlasan, dan tidak mungkin sanggup berjihad menghadapi musuh fisik yang ada di hadapannya kecuali orang yang telah berjihad menundukkan musuh-musuh ini di dalam dirinya…” (Al Fawa’id, hal. 58).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Qashash [28] : 50).
Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa semua orang yang tidak mau memenuhi seruan Rasul dan justru menganut pendapat yang menyelisihi ucapan Rasul maka dia tidaklah bermadzhabkan bimbingan hidayah akan tetapi madzhabnya adalah hawa nafsu. Orang-orang yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang kezaliman telah menjadi karakter hidupnya dan suka menentang (kebenaran) telah melekat dalam perangainya. Ketika hidayah menyapa, mereka justru menolaknya. Mereka lebih senang menuruti kemauan hawa nafsunya. Mereka sendirilah yang menutup pintu-pintu dan jalan menuju hidayah. Mereka justru membuka pintu-pintu kesesatan dan jalan menuju ke sana. Mereka menutup mata dan tidak mau tahu, padahal mereka telah tenggelam dalam kesesatan dan penyimpangan. Mereka terombang-ambing, hidup di ambang kehancuran (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 618).
Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitana, wa hablanaa min ladunka rahmah. Innaka anta al-Wahhaab [lihat doa ini dalam QS. Ali Imran : 8].artikel ini hasil copy paste http://abumushlih.com/tunjukilah-kami-ke-jalan-yang-lurus.html/

Sabtu, 16 Juli 2011

Do'a Penawar


#Doa Menghadapi kesulitan


Laa ilaha illa anta, subhanaka, inni kungtu minadzholimiin.


"Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Engkau semata. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim."


[HR. At-Tirmidzi no.3505]



"Ya Allah, rahmat-Mu yang selalu aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku meski hanya sekejap mata, dan perbaikilah urusanku semuanya,
tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau."
[HR. Abu Dawud no.5090]


#Doa Penawar Hati

"Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam),
dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa),
ubun-ubunku berada di tangan-Mu, hukum-Mu adil berlaku terhadap diriku dan ketetapan-Mu adil pada diriku.
Aku memohon kepada-Mu dengan segala Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya,
atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-MU, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau Rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu,
maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku."
Melainkan Allah akan menghilangkan kesedihan dan kesusahannya serta menggantikannya dengan kegembiraan.
[HR. Ahmad I/391]

Minggu, 05 Juni 2011

Hujan malam ini

Kemarin mengeluh karena cuaca panas,
sekarang di jalanan kehujanan mengeluh lagi, atau juga ada yang rumahnya kebocoran/kebanjiran
gara-gara hujan..
Emang serba salah tuh manusia, apa aja disalahin.

"Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan
air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkannya-Nya
dengan air itu tanaman-tanaman
yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu Kami melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
(QS. Az-Zumar: 21).

Juga dalam Alquran surat Al Waaqi'ah ayat 68-70 Allah Ta'ala pun
berfirman,
''Maka terangkanlah
kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang
menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapa kamu
tidak bersyukur.''

jadi, bersyukurlah malam ini hujan, jadi
gak sepi, mendengerkan rintik-rintiknya yang jatuh ke tanah, gemuruh
petir, juga tetesan hujan yang jatuh ke baskom di dalam kamarku yang bocor.
*malangnya :p

Sabtu, 23 April 2011

Cinta, lagi-lagi Cinta

"Cinta"
Siapa sih yang gak kenal cinta?
Ada cinta pertama, cinta terakhir atau cinta sejati.
Terus kadang penasaran, cinta sejati itu siapa?
Sudah banyak kenanganan atau cerita tentang cinta.
Basi memang, lagi-lagi cinta..
Bukan! bukan cinta itu yang ingin saya tulis.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (ALI 'IMRAN  ayat 14)

Cinta, awal mula kita merasakan cinta pastinya ketika kita bernyawa.
Cinta yang pertama kita kenal adalah cintanya Sang Pencipta, dengan cinta dan kasih sayang-Nya, Allah mengijinkan kita hidup dunia ini kemudian dengan selamat.
Kemudian tentunya diiringi cintanya kedua orang tua kita yang begitu besar, yang tidak mungkin bisa kita balas.
Sampai sekarang kedua cinta itu selalu terasa.

Tapi, sadarkah kita? Saat kita sudah tumbuh dewasa, cinta Sang Khalik dan cinta kedua orang tua kita pun belum juga kita balas dengan sempurna?
Ya, kita khianati cinta ibu bapak kita, apalagi cintanya Sang Pencipta kita, Allah Subhanahu wa Ta'ala..
cinta kita berpaling, kepada siapa?
Kepada isi dunia, kepada sebuah benda, dan yang tak bisa terbantah ialah saat kita mulai mencintai lawan jenis yang kadang belum resmi, nah.. sadar dikit deh, ngapain cinta sama orang yang belum jelas apakah akan jadi pasangan hidup kita kelak atau enggak.
Saat itu cinta kita terbagi, bahkan kadang "berat sebelah" alias nggak seimbang.
Contoh, ada orang yang sedang cinta kepada lawan jenisnya dan pikirannya hanya tertuju pada satu, yaitu sang kekasih itu saja, sehingga cintanya Sang Pencipta dan kedua orang tua di abaikan, bahkan mungkin dilupakan.
Perbandingan kecil saja, saat ada panggilan telepon dari sang kekasih, bergegas kita menghampiri telepon , bahkan lari untuk menjawab teleponnya.
Tapi.. saat orang tua yang memanggil atau panggilan untuk sholat (Adzan).. kita berpura-pura, lambat sekali gerak kita, atau tak digubris sama sekali! Nah lho.. Na'udzubillah

Renungkanlah sedikit...
Kita mengenal lawan jenis saat kita dewasa, tapi ingat lawan jenis kita, tak sepenuhnya mencintai kita, cinta yang mereka miliki terbatas. Bisa jadi pula, cinta itu hanya sementara dan bila dia kelak tak menjadi pasangan hidup kita malah cintanya akan lenyap tanpa sisa, mungkin.
Sedangkan cintanya Allah itu abadi, dari awal kita diciptakan, sampai kita mati, tidak pernah putus rahmat dan kasih sayang yang diberikan-Nya.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (ALI 'IMRAN ayat 31)

Nah, ayat di atas itu adalah janji Allah. Yakni jika kalau mencintai Allah maka Allah akan membalasnya dengan mengasihi kita, bahkan akan menghapus dosa-dosa kita. Cinta kepada Allah bisa ditunjukkan dengan menjalani segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan taat beribadah.
Terus, cinta kepada orang tua bisa kita tunjukkan dengan berbakti dan menghormati mereka.

Gini loh, boleh saja kita mencintai lawan jenis kita.. Tapi jangan berlebihan menyetarakan bahkan melebihi cinta kita kepada Allah.

Buktikan kalau kita orang beriman dan bertakwa.. ayo kita tanam rasa cinta ini di hati kita, jangan lupa dipupuk dan disiram .. ^.^!

Selasa, 12 April 2011

Nikmat...

"Maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?"
Kalimat yg sering kita jumpai saat membaca surat Ar-Rahman, singkat, namun begitu mempunyai makna luas...

Hmmm...
Sudahkah aku ini mensyukuri nikmat yang Allah berikan untukku?

Begitu banyak nikmat-Nya dari hal yang kadang kita anggap sepele...
Kedipan mata, denyut nadi, detak jantung, menghirup udara, hembusan nafas, dan masih banyak nikmat lainnya yg tak sanggup aku sebutkan...

Ampuni hamba-Mu ini ya Rabb yang sering merasa kurang atas nikmat ya Kau beri...

Tp sungguh, aku ini manusia yg mempunyai sebuah keinganan, yg menurutku, mudah bagi-MU untuk mengabulkannya...

Aku mempunyai sebuah keingan yg ingin aku dapatkan di tahun ini... Keinginan atau tidak berbeda dengan yg namanya Cita-cita/mimpi...

****

Jumat, 25 Februari 2011

`*~ Renungan ~*`


Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belumtentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya menyapa Anda inilah hari Anda.


Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dllahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan
bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.

Pada hari ini pula, sebaiknya Anda mencurahkan seluruh perhatian,kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, Anda harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu', bacaan al-Qur'an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.

Pada hari dimana Anda hidup saat inilah sebaiknya Anda membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyakbanyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda hari dengan penuh keridhaan.

{Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur.}
(QS. Al-A'raf: 144)


Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.
Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati Anda satu kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda): Harimu adalah hari ini. Yakni, bila hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan Anda?

Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi?

Jika Anda percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat Anda, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan.
Dan itu, akan membuat Anda berkata dalam hati,

"Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak tandukku."

Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada al-Qur'an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat.

Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya', dan buruk sangka.

Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan,


"Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi."


"Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan."


"Hari ini milik Anda", adalah ungkapan yang paling indah dalam "kamus kebahagiaan". Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan!!!


--dari buku La Tahzan

***