Kamis, 09 Juni 2011

Menikah, suami...

Kalau aku tulis,
yang menjadi suamiku kelak dia seperti es kelapa.
*Loh?
Maksudnya, ciri-cirinya seperti si penjual es kelapa (pokoknya yang bermanhaj salafush shalih).

¤memelihara jenggot, sesuai yang Sunnah kan Rasulullah.
¤celananya non-isbal, artinya tidak melewati/di atas mata kaki (ngatung)
ada haditsnya, tapi maaf gak diposting karena gak hapal.
¤kalau pakai jam tangan sebelah kanan.
*ketika berbicara dengan lawan jenis yang bukan muhrim, dia menundukkan pandangan!
Itu kriteria yang bisa dilihat dengan mata.

Kriteria rohaniahnya.
Yang ini gak berpatok penjual es kelapa:
*dia paham Agama islam secara kaffah (menyeluruh),
¤taat pada Allah,
¤paham, bahkan menguasai hafalan AlQur'an dan Hadits,
¤mengikuti Sunnah Rosul,
¤berhati dan berjiwa hanif (baik),
¤sayang dan mencintai aku sebagai istrinya karena Allah Ta'ala.

Aamiin ya Rabb.

Menikah adalah menyempurnakah separuh Dien. Setelah menikah, siapapun ingin hati dan hidupnya bertambah tentram.
Jadi wajar, malah harus bila aku meminta kriteria calon suamiku kelak yang seperti itu, yang bisa membimbing menuju kesempurnaan agama, karena kita semua pasti ingin mendapat Ridho Allah.. :)

dan ketika ditanya, "kapan nikah?"
aku jawab gini, "saat waktunya tiba, lelaki yang akan menjadi suamiku menemukanku datang, kemudian dia mengkhitbahku." ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar