Sabtu, 16 Juli 2011

Untukmu yang berjiwa hanif

Dikutip dari Buku “ Untukmu yang berjiwa Hanif “ oleh Ustadz Armen
Halim Naro Lc rohimahullah , “ Penerbit : Darul Ilmi Cetakan pertama Zul
Qa’dah 1427H , Februari 2007 ).

1. HAKIKAT KEHIDUPAN

Ketika seseorang sudah mulai beranjak dewasa, ketika akalnya mulai sempurna,
mulailah ia berpikir tentang hakikat kehidupan, yaitu kehidupan yang sedang
ia jalani sebagaimana yang dijalani juga oleh yang lainnya. Bumi ini telah
penuh sesak dengan manusia, semuanya silih berganti, ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang lahir dan ada yang mati.

Jika hari ini berkuasa seorang raja, besok akan berkuasa lagi raja lainnya.
Sekiranya hari ini ada pengangkatan seorang menteri atau seorang jenderal,
dahulunya kita juga mendengar bahwa di suatu negeri telah diangkat pula
seorang menteri atau panglima. Yang tetap itu hanya peran manusia dalam
kehidupan ini, sedangkan yang silih berganti adalah para pelaku dan yang
memeraninya.

Peran kehidupan itu ada yang baik dan ada yang buruk, hanya saja manusia
disuruh untuk memilih peran baik bukan peran buruk!

“Itu adalah umat yang telah lalu, baginya apa yangdiusahakannya dan bagimu
apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab
tentang apa yang telah mereka kerjakan”. (QS: al-Ba qarah:141)

Pada masa Nabi Musa Alaihimussalam orang-orang disibukkan dengan kekuasaan Fir’aun, bahan cerita orang terfokus pada kekayaan Qarun dan decak kagum orang hanya pada arsitektur bangunan yang dirancang oleh Haman. Akan tetapi, mana cerita kehidupan itu sekarang ini?!
Semuanya sirna dan punah, yang kita temukan hanya cerita pada lembaran
kitab-kitab suci. Dan apa yang tersisa dari sejarah kepongahan tersebut?!
Yang tersisa hanya bekas-bekasnya saja.

Dari sepanjang perjalanan hidup manusia yang beragam ini, baik pada masa
kekuasaan orang-orang yang shalih maupun dalam cengkraman orang-orang
thalih, Allah tetap menjaga alam ini, memelihara bumi dan dunia sekitarnya,
dalam keseimbangan yang berkesinambungan, dalam keindahan yang menakjubkan dan ciptaan yang berjenis dan berpasang-pasangan. Adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, langit dan bumi, semuanya itu pertanda adanya pencipta.

Salah seorang Badui jahiliah berkata, “Lautan yang berombak dan langit yang
berbintang serta bumi yang berlembah, bukankah semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta ?!“

Begitu besar penciptaan langit dan bumi beserta isinya, memberi pengertian
kepada kita bahwa Allah menciptakannya bukan sekedar bermain-main. Allah
Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main- main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mukminun: 115)

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa
pertanggungjawaban)?” ( QS. al-Qiyamah: 36)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui”. ( QS. al-Ankabut: 64)

Sekiranya kehidupan yang penuh keseimbangan ini tidak diciptakan untuk
bersenda gurau, lalu untuk apa Allah ciptakan?! Apa tugas manusia ? Apakah
mereka hanya sekedar makan, minum, menikah dan memiiki keluarga dan
mempererat suku saja?! Atau Ia hidup dalam tidak bertujuan sebagaimana Ia
mati tidak bertujuan?! tanah terakhir yang diletakkan oleh orang pada
kuburannya, itu pula akhir dari cerita kehidupannya?!

Bagaimana yang kaya dengan kezhalimannya, bagaimana yang berkuasa dengan kediktatorannya?! Apakah mereka dibiarkan begitu saja?! Bagaimana pula si miskin dengan kefakirannya atau rakyat jelata dengan penderitaan mereka?! Kapan mereka dapat kebahagiaan pula?! Bagaimana pula dengan para nabi dan rasul, para ulama dan ahli ibadah yang terusir dan belum memperoleh
kebahagiaan?!

Sekiranya dunia ini diciptakan dengan keadilan Sang Pencipta, tentu balasan
baik atau buruk dengan keadilanNya juga?! Sekiranya dunia ini mampu Dia
ciptakan dari asal yang tidak ada, berarti Dia pula mampu untuk membalas
kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan.

Allah azza wa Jalla berfirman :

“Dan setiap mereka semuanya akan dikumpukan lagi kepada Kami. Dan suatu
tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami
hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan- pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggàlkan siang
dan malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan
matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah
manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah
dia seba gai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yasin:32- 40 )

Dan Allah berfirman,
Dan ía membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; Ia
berkata:
“Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur Iuluh?”Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Tuhan yang men jadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”. Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? benar, Dia berkuasa. dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”. (QS. Yasin: 78-81)


Tujuan Hidup

Rasanya semua orang sepakat dengan tujuan hidup yaitu mencari dan menggapai kebahagiaan. Semua manusia ingin hidupnya bahagia, dan semua tahu bahwa untuk mencapai kebahagiaan itu perlu pengorbanan. Hanya saja, manusia banyak salah mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang Ia sangka di sana ada pantai kebahagiaan, padahal itu adalah jurang kebinasaan, itu hanya sebatas fatamorgana kebahagiaan, bukan kebahagiaan yang hakiki. Celakanya lagi, semakin dilalui jalan fatamorgana tersebut semakin jauh pula Ia dari jalan kebahagiaán hakiki, kecuali Ia surut kembali ke pangkal jalan.

Banyak orang menyangka kebahagiaan ada pada harta, karenanya ia berupaya
mencari sumber sumbernya dengan berletih dan berpeluh. Setelah Ia peroleh
harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan masih gelisah!! Ada saja
yang membuat hati itu gelisah, kadang-kadang munculnya dari anak-anaknya,
kadang-kadang dari istrinya atau tidak jarang juga datang dari usaha itu
sendiri.

Banyak pula yang nenyangka bahwa pangkat dan kekuasaan adalah kebahagiaan. Ketika dilihat mereka yang berkuasa dan bertahta, secara lahir mereka begitu tampak bahagia hidupnya! Pergi dijemput pulang diantar, ketika ia
berkehendak tinggal memesan, perintahnya tidak ada yang menghalangi!! Akan
tetapi setelah diselidiki lebih mendalam, kita masuk menembus dinding
istananya, akan terdengar keluh kesahnya, dalam harta yang banyak itu
terdapat jiwa yang rapuh.

Jadi apa kebahagiaan yang sebenarnya ? Apa kebahagiaan sejati yang seharusnya dicari oleh manusia ? Siapa yang sebenarnya orang yang berbahagia? Apa sarana untuk mencapainya?

Manusia diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla, bukan mereka yang menciptakan
diri mereka, tentu yang paling tahu tentang seluk-beluk manusia termasuk tentang sebab bahagia atau sebab sengsara adalah Dia Allah subhanahu wa ta‘ala bukan manusia. Sama halnya dengan sebuah produk, sekiranya hendak mengetahui hakikat produk tersebut tentu ditanyakan kepada pembuatnya, bukan kepada produk itu sendiri.

Allah berfirman;
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau
rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Mulk:14)

Ketika Al-Qur’an ditadabburi dan syariat Islam dikaji, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah dengan mengaplikasikan penghambaan diri kepada Allah Azza Wa Jalla. Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil menjadi hamba Allah Azza Wa Jalla. Sarana kebahagiaan adalah semua sarana yang telah disediakan olehNya dalam meniti jalan penghambaan diri kepada Allah.

Karena penghambaan diri inilah sebab diciptakannya manusia dan jin..karena ubudiah kepada Allah ditegakkannya langit dan dibentangkannya bumi... karena penghambaan inilah diturunkannya kitab dan diutusnya rasul...

Allah berfirman;
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu”. (QS.az-Zariat: 56)

Orang yang berpaling dari penghambaan diri ini dialah orang yang sengsara, Allah berfirman;
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha:124)

“Untuk Kami beri cobaan kepada mereka dan barang-siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat”. (QS. al-Jin:17)

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menentukan taqdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat merubah taqdir selainNya. Allah Azza Wa Jalla tentukan kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan. Manusia tidak bisa melawannya, sekiranya Allah telah menentukan kemiskinan pada seseorang, maka tidak ada yang dapat mengkayakannya, ketika Allah telah menentukan kepadanya kesengsaraan, maka tidak ada satupun yang dapat membahagiakannya.

Kalaulah begitu, kemana manusia hendak lari?! Kemana manusia hendak berteduh dan bernaung dari taqdir yang Ia tidak memiliki daya dan upaya untuk merubahnya kecuali atas izinNya?! Kemana manusia hendak bersandar dari sesuatu urusan yang tidak di tangannya?!
Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada Zat yang telah mentaqdirkan segala sesuatu, dalam naungan-Nya Ia akan merasakan ketenangan, dalam menyandarkan diri kepadaNya, akan ia peroleh kebahagiaan, dalam ke-pasrahan diri kepadaNya akan sirna segala kecemasan dan kesedihan.

Bagaimana ia tidak bahagia, bukankah Jejak jejak kasih sayang Allah begitu tampak dalam taqdir kehidupannya?! Bagaimana ía tidak tenang, bukankah semua taqdir yang ía suka atau yang ía benci, merupakan sarana untuk menggapai ridho dan cintaNya?

Dari mana kesedihan masuk ke dalam dirinya atau rasa takut menyelimutinya, karena sebelumnya ia telah diajarkan tentang cara menghadapinya, bersabar ketika sengsara dan beryukur ketika bahagia, sehingga sengsaranya tidak membawa kepada keputusasaan dan senangnya tidak membawanya kepada kesombongan dan kecongkakan.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiah rohimahullah ta’ ala menguñgkapkan hakikat tersebut yang berlaku pada dirinya, beliau berkata,
“Apa yang dapat dilakukan oleh musuh-musuhku ?! Surga ada di dadaku, kemanapun dan dimanapun aku, Ia tetap bersamaku!! Sekiranya mereka
memenjarakanku, maka penjara bagiku adalah kholwat. Sekiranya mereka
mengusirku, usiran itu bagiku menjadi tamasya. Sekiranya mereka membunuhku, terbunuhnya diriku adalah syahid di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala”.

Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai manusia yang paling sempurna ubudiahnya kepada Allah, ketika Allah telah mentaqdirkan sesuatu yang berat dalam dakwah beliau, yaitu dua orang yang selama ini sebagai pembela dan penopang dakwah beliau, Khadijah Radliallahu anha istri
beliau dan Abu Thalib paman beliau, telah meninggal dunia. Membuat kaum Quraisy meningkatkan permusuhan mereka kepada beliau dan memberi ultimatum untuk menghentikan dakwah beliau, bahkan telah berani pula mengusir beliau dari Mekkah.

Berangkatlah beliau ke Thaif, berharap pembelaan dan bantuan. Kiranya bukan
pembelaan yang beliau dapat dan bukan bantuan yang beliau peroleh, tapi
malah cacian dan cemoohan, bahkan usiran oleh anak-anak dan wanita-wanita di
sana, sedangkan beliau seorang utusan Allah Azza wa Jalla, Allah yang
memiliki langit dan bumi.

Mereka telah melukai melempar beliau dengan batu hingga luka kaki beliau,
sebagaimana sebelumnya mereka telah melukal hati dan perasaannya. Belum
sampai di situ malaikat gunung Akhsyabain meminta izin kepadanya untuk
menimpakan gunung tersebut kepada mereka, sebagai tanda bahwa beliau bukan
sendirian.

Bertambah sedih beliau, karena yang beliau inginkan bukanlah balas dendam
atau kepuasan diri, yang beliau inginkan hanya menampakkan bukti penghambaan diri kepadaNya, hal itu nampak betul dari doa beliau panjatkan
kepadaNya,

“Ya Allah Azza wa Jalla kepadaMulah daku keluhkan lemahnya kekuatanku,
sedikitnya hilafku, hinanya diriku di mata manusia. Wahai Zat yang paling
Pemurah ! Engkaulah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Rabbku!
Kepada siapa Engkau hendak titipkan diriku?! Apakah kepada orang yang jauh
yang tidak peduli dengan diriku atau engkau hendak serahkan perkara diriku
kepada musuh?!
Meskipun begitu, selagi Engkau tidak murka kepadaku, aku tidakpeduli!! Akan
tetapi pengampunanMu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya
wajahMu -yang telah menerangi semua kegelapan, dengannya berjalan perkara
dunia dan akhirat- dan turunnya murkaMu kepadaku atau jatuh kepadaku
kebencianMu, hanya kepadaMu pengaduanku sampai Engkau ridho, dan tidak ada daya dan upaya kecuali denganMu “.

Al-Quran menyebutkan bahwa orang berbahagia adalah orang yang menjalankan
perintah Allah azza wa Jalla, Allah berfirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang
yang khusyu’ dalam sholatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari
(perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang
menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali
terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di
balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sholatnya“. (QS. al-Mukminun:1 -9)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ,

“Alif laam miin. Kitab (Al Quran) inii tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,
yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami
anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran)
yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah
yang tercipta mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang
yang beruntung”. (QS. aI-Baqarah:1 -5)

Sebaliknya Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa orang yang melanggar
perintahNya atau merekalah orang yang merugi, Allah Azza wa Jalla berfirman, :

“Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia
mengetahui apa yang di langit dan di bumi.Dan orang-orang yang percaya
kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang
merugi”. (QS. al-An kabut: 52)

“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk
menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”. (QS. al-Baqarah :27)

Beban Amanah

Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia pada kehidupan dunia ini
untuk sebuah tujuan yang sangat mulia. Dia tundukkan semua alam untuk
mereka, darat dan lautan, bumi dan Langit, gunung dan lembah, binatang dan
tumbuhan. Itu semua agar manusia siap untuk menunaikan tujuan tersebut.
Kiranya tujuan sangat besar, tugas sangat sukar dan amanah yang akan dipikul
sangat berat. Pantas saja, sebelumnya tidak ada yang mau memikul amanah
tersebut dari langit yang tinggi, gunung yang menjulang atau bumi yang
terbentang, semuanya menyampaikan keengganannya, kecuali hanya manusia, dan mereka itu bodoh dan zhalim. Allah menceritakan tentang perihal tersebut,

“Sesungguhnya Kami telah sampaikan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. [QS. al-A hzab: 72 )

Apa gerangan amanah yang telah diikrarkan itu? Mengapa manusia disifati
dengan bodoh dan zhalim? Amanah itu adalah Islam dan peraturanNya, amanah
itu adalah janji kepatuhan kepada Allah Azza wa Jalla.

Ibnu Katsir rohimahullah ta’ ala berkata: dalam merangkum perselisihan ulama dalam hal itu, “Semua pendapat (tentang makna amanah-pen) tidak menafikan yang lainnya, bahkan ia saling menguatkan dan semuanya mengacu kepada taklif (beban) dan patuh kepada perintah dan larangan dengan segala konsekuensinya, yaitu sekiranya ia tunaikan akan diberi pahala dan jika
lalai ia dihukum. Lalu diterima oleh manusia dengan segala kelemahan,
kebodohan dan kezhaliman kecuali yang diberi taufiq oleh Allah Azza wa Jalla. Kepada-Nyalah minta tolong” (Tafsir Ibnu katsir, 6/489 ) .

Muqatil bin Hayyan rohimahullah ta’ala, berkata: “Ketika Allah Azza wa Jalla menciptakan rnakhluk, Dia kumpulkan antara manusia dan jin, langit, bumi dan gunung. Lalu Dia mulai dengan langit, ditawarkan kepadanya amanah yaitu ketaatan. Dia berkata, “Apakah kalian mau mengemban amanah, akan Kuberi kemuliaan, keutamaan dan surga ?“

Langit berkata, “Wahai Rabb, kami tidak mampu memikul perkara ini, kami
tidak memiliki kekuatan, akan tetapi kami patuh kepadaMu”.

Lalu amanah tersebut ditawarkan kepada bumi, Dia berkata, “Apakah engkau
akan mengemban amanah dan menerimanya dariKu, akan Aku anugerahkan
keutamaan dan kemuliaan?”

Bumi berkata, “Kami tidak kuat dan kami tidak mampu, wahai Rabb! Akan
tetapi, kami selalu mendengar dan mematuhiMu, kami tidak akan berlaku
maksiat pada semua perintahMu”.

Lalu ditawarkan kepada Adam alaihissalam lalu Dia berkata, ‘Apakah engkau
siap mengemban amanah dan mau menjaga dengan sebenarnya?”
Berkatalah Adam, “Apa ganjaranku di sisiMu?”

Allah Tabaroka wa Ta’ala berkata, “WahaiAdam, sekiranya engkau berbuat baik,
engkau patuh dan engkau jaga amanah itu, maka engkau akan memperoleh
kemuliaan, keutamaan dan pahala yang baik di surga. Sebaliknya, sekiranya
engkau berlaku maksiat dan tidak menjaganya dengan baik serta engkau berlaku
buruk, maka Aku akan menyiksamu dan Aku masukkan ke dalam nerakaKu”.

Lalu Adam alaihissalam berkata, “Aku telah terima”, maka diembanlah amanat
itu olehnya. Lalu Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman, ‘Aku telah embankan
amanah itu kepadamu”.( Tafsir ibnu katsir, 6/489- 490 )

Itulah perjanjian yang Allah Azza wa Jalla ambil kepada manusia, tatkala
mereka masih di dalam sulbi Adam alaihissalam, yaitu pengakuan hamba bahwa
ia telah berilahkan Allah Azza wa Jalla Yang Esa dan tidak berbuat syirik.

Allah berfirman,”

“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb
kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”. (QS. al-A ‘raf:1 72)


Ahsanu Amalan

Al-Quran menyebutkan bahwa penciptaan alam, hidup dan mati untuk menguji
manusia mana yang lebih baik amalnya. Itulah yang disebut dengan “ahsanu
‘amala”. Allah Azza wa Jalla berfirman;

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara
kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
(QS. al-Mulk:2)

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan
baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik
perbuatannya”. (QS.al-Kahfi:7)

“(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan
kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka, dan Allah
memberi rezki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas”. [QS.an-Nur: 38]

Fudhail bin ‘Iyadh rodhiallahu anhu, berkata: “Ahsanu amala, adalah amalan
yang paling ikhlas dan yang paling benar”.

Jadi, dan semua bentuk penghambaan diri yang paling sempurna adalah
penghambaan diri yang berdasarkan ahsanu amala. Ia berdiri dengan 2 syarat,
yaitu:

1. Hendaklah ‘ubudiah kepada Allah * disertakan keikhlasan kepadaNya.
2. Hendaklah ‘ubudiah tersebut sesuai dengan syariat.

Sekiranya salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka penghambaan diri hanya
akuan saja, ikhlas saja kepadaNya tanpa mengikuti syariat, Ia tertolak.
Sebagaimana sesuai saja tanpa ikhlas, ia juga tertolak. Jadi, ikhlas dan
mengikuti syariat adalah dua sayap ibadah. Tidak akan bisa terbang seseorang
dalam penghambaan dirinya kecuali dengan keduanya sekaligus.



2. Gerbang Hidayah


Fitrah Bekal Kebenaran

Setiap jiwa manusia diberi fitrah sebagai bekal
untuk mencari kebenaran. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala tahu manusia itu lemah dan
membutuhkan Khaliq-nya. Fitrah itu adalah Islam, yaitu penyerahan diri
kepada Dzat Yang Maha Kuasa, perasaan kerinduan terhadap kebenaran dan keinginan
yang mendalam untuk menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjauhi
larangannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"(Berpegang teguhlah dengan) fitrah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah dirakit manusia dengannya, tidak ada perubahan pada penciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Itulah agama yang lurus". (QS. Ar-Rum: 30)


Muara Kebenaran

Semua aktivitas badan yang lahir, perbuatan baik
dan buruk, dikuasai oleh satu komando, yaitu hati. Ia bagaikan raja yang
berkuasa mutlak terhadap bala tentaranya, semua tindakan harus dibawah perintah
dan larangannya, ia pergunakan sekehendaknya dan ia suruh semaunya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah dia adalah hati.
(HR Bukhari 1/126 no.52, Muslim 11/57 no. 1599 dari Nu'man bin Basyir)

Hati yang bisa meraih hidayah Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah hati yang masih dalam kategori hidup dan hati yang masih memiliki cahaya sekalipun redup.


Tunjuki Aku Jalan yang Lurus

Ihdinashshirotholmustaqim,
Shirotholladzina an'amta'alaihim.... tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat..., Begitu pentingnya hidayah,
sehingga seorang hamba memohon minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam.
Ketika hidayah jauh dari seorang, berarti kebinasaan dan kesengsaraanlah yang
akan segera menimpanya. Hajat seorang hamba kepada hidayah seperti hajat badan
terhadap udara, ia sangat membutuhkan sejumlah hidayah-nafas yang keluar masuk
tubuhnya. Sebagaimana tubuh membutuhkan makan dan minum, hati juga membutuhkan
hidayah sebagai makanan dan minumannya.

Imam Ahmad rahimahullah berkata,
 "Kebutuhan seorang hamba pada hidayah, melebihi kebutuhannya dari makan dan minum, kalau makan dan minum hanya dibutuhkan satu dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah
nafas". (Miftah Darus sa'adah, 1/61)


Jadilah Lentera

Orang yang merasakan manisnya hidayah dan lezatnya
iman dialah orang yang punya motivasi dalam hidup dan bertabiat tidak pernah
puas pada sesuatu, ia tidak puas kalau dirinya saja yang merengkuh kenikmatan
dan merasakan kebahagiaan. Ia bagaikan lentera yang memberi penerangan buat
dirinya sebagaimana ia menerangi yang lainnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan apakah orang yang
telah mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan kembali dan Kami anugerahkan
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di
tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya dalam gelap gulita yang sekali-kali
ia tidak dapat keluar darinya...". (QS. Al-An'am: 122)


3. Menuju Cara Beragama yang Benar

Setelah seseorang dihantarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke gerbang hidayah, yaitu "Islam"
yakni keinginan untuk mencari kebenaran melalui ilmu dan iman serta usaha dan
amal, berarti ia telah mendapatkan setengah kebahagiaan. Akan tetapi, tidak
cukup sampai disana, ia menghendaki hidayah kedua dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala . yaitu, taufiq Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kebenaran pada semua
tindakannya. Itulah yang disebut  Allah Subhanahu wa
Ta'ala dalam Al-Quran;

"Dan orang yang berjuang di jalan
kami, akan kami beri kepada mereka hidayah jalan-jalan kami...". (QS. Al-Ankabut : 69)

Para
ulama berkata, "kami beri mereka taufiq untuk mendapatkan sarana yang benar
menuju jalan yang lurus, jalan itu yang mengantarkan mereka kepada ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala". (Tafsir
Baghawi, 404)


Untuk menggapai hidayah yang kedua ini seorang muslim harus memiliki sifat :
  • Berjiwa Hanif 
Orang yang berjiwa hanif yaitu orang yang condong
kepada kebenaran, berkepribadian yang lurus dan istiqomah. Agama hanif yaitu
agama yang jauh dari kesyirikan dan penyembahan berhala, dengan berkhitan dan
melakukan manasik haji. (Qamus Muhith, 2/370)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman;

"Tidaklah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang hanif lagi
muslim, dan dia bukan dari orang musyrik. (QS. Ali-Imran : 67 )

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: jauh dari syirik dan condong kepada iman".
(Tafsir Ibnu Katsir, 2/58)

  • Berserah Diri 
Penyerahan diri dalam syari'at adalah "Islam", atau
" taslim", yaitu tunduk, patuh dan menyerahkan diri kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala, serta tidak ada perlawanan, penolakan dan keraguan dalam
melaksanakan perintah-Nya.

  • Memiliki Motivasi
Seorang yang memperoleh hidayah mempunyai kemauan
yang kuat dan motivasi yang tinggi, karena yang dicarinya adalah surga yang
luasnya seluas langit dan bumi. Jika orang yang mencari dunia memerlukan
semangat dan motivasi, maka selayaknya orang yang mencari akhirat akan memiliki
semangat dan motivasi yang lebih besar untuk meraihnya.

  • Sabar dan Yakin  
 Sabar dan yakin sebagai syarat kebahagiaan hamba di dunia dan di akhirat, ketika dua hal ini telah
diperoleh hamba, berarti ia telah menjadi insan kamil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
"Dengan sabar dan yakin akan diperoleh kepemimpinan dalam din"


Menuju Mazhab Salaf

Banyak orang diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala hidayah kepada
Islam, tetapi mereka belum sampai kepada kebahagiaan dan kedamaian hidup. Maka ia
perlu hidayah yang kedua yaitu, hidayah di dalam Islam, hidayah yang dimaksud
ialah menjalankan ajaran Islam yang sesuai dengan Islam yang telah diamalkan
dan didakwahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersama para sahabatnya, karena itulah Islam yang hakiki, Islam
yang akan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dan kedamaian hidup. Maka
wajib bagi setiap muslim untuk beragama dengan cara beragamanya para sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Mereka telah dipuji dan disanjung Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang Muhajirin dan
Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.itulah
kebenaran yang besar". (QS. At-Taubah: 100)


Ketika Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah dikotori
dengan pemahaman dan pemikiran yang rusak dan masuk ke dalam Islam, sehingga
muncullah kelompok-kelompok yang telah melenceng dari jalan kebenaran dan
seluruhnya mendakwakan diri mereka sebagai penganut Islam, maka untuk
membedakan meraka dengan firqoh-firqoh yang lainnya. Muncullah nama-nama lain
yang disyari'atkan untuk panggilan bagi orang-orang yang memeluk agama Islam
sebenarnya, yaitu Ahlussunnah wal Jama'ah, Salafi, Firqoh Najiah, dan Thoifa  Mansurah.


Ahlussunnah wal Jama'ah

Arti Ahlussunnah wal Jama'ah dalam bahasa adalah penganut/pemilik Sunnah dan orang yang mengikuti jama'ah. Sunnah yang dimaksud
adalah jalan dan gaya hidup yang dilakoni oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan Jama'ah yang dimaksud adalah Jama'ah yang mengikuti kebenaran dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia
dari orang-orang Muhajirin dan Anshar.

Berkata Imam Barbahariy rahimahullah , "Ketahuilah, sesungguhnya Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam, tidak akan berdiri salah satunya kecuali dengan saudaranya, dan dari Sunnah berpegang teguh dengan Jama'ah (yaitu para sahabat). Barang siapa yang benci jama'ah dan
meninggalkannya berarti ia telah meninggalkan Islam dari pundaknya, dan berarti
ia telah sesat dan menyesatkan. (Syarhussunnah hal. 21)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam,
"Sesungguhnya umatku akan berpecah-belah
menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan yaitu jama'ah".
(Ibnu Majah, 2/1322 no.3993, Ibnu Abi Ashim, Sunnah 32/64 )


Salaf

Penamaan Salaf atau orang yang menisbatkan kepada
salaf dikenal dengan Salafiy yaitu orang yang mengikuti Salafushshaleh.
Salafshshaleh adalah orang yang terdahulu dari zaman yang telah disucikan oleh
wahyu kenabian dari para sahabat dan tabi'in dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik.

Berarti penamaan Salafi dan Ahlussunnah adalah nama
lain dari Islam itu sendiri. Jadi Islam = Salafi = Ahlussunnah, tiga
perkataan untuk satu nama.

Kesimpulan

Bahwa tujuan hidup adalah mencari kebahagiaan dan jalan kebahagiaan adalah
dengan menghambakan diri kepada Allah azza wa Jalla. Penghambaan diri itulah Tauhid dan Islam, itulah amanah yang harus dipikul oleh manusia dan itulah
perjanjian yang telah disepakati.

Tauhid dan Islam tidak akan membuahkan amal shalih kecuali dengan ahsanu
‘amala yaitu ikhlas dan mutaba’ah (sesuai dengan syariat).

Allahu ta’ala a’lam bish showab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar